Selasa, 11 Desember 2012

Bahaya Televisi



Televisi sebagai media informasi sekaligus hiburan memang telah mampu memberikan servis yang maksimal kepada para pemirsanya.  Informasi yang aktual baik dari dalam maupun luar negeri dan alternatif  hiburan yang murah meriah serta beraneka ragam ditambah jam tayang yang tak mengenal batas waktu benar-benar memanjakan para penikmatnya. Namun demikian teramat disayangkan diantara program-program acara yang ditampilkan kurang bermutu , kurang bermanfaat, atau malah justeru sebaliknya lebih banyak ‘madlarat’ dari pada ‘manfaatnya’.
Meskipun usianya ‘masih muda’ dibandingkan media komunikasi lainnya, Tidak dapat dipungkiri belakangan ini televisi merupakan media komunikasi yang sangat banyak digandrungi masyarakat kita bahkan bisa dikatakan konsumsinya sangat penting. Ini dapat dibuktikan dengan antusiasme serta animo masyarakat yang tinggi terhadap media ini. Media berita ‘tanpa kawat’ yang lebih dramatis. Ia memberikan gerakan pada gambar tiruan, serta menciptakan suasana akrab dengan bunyi suaranya dimana gambar serta suaranya mempunyai jangkauan yang sangat luas dan dapat dilihat atau didengar dari jarak jauh. Teorinya, gambar dapat dipilih dari udara, diolah selama enam puluh detik, dan diproyeksikan pada layar dengan segera.
Perkembangan televisi dewasa ini sudah dianggap luar biasa, perdagangannya dimulai sejak tahun 1945. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya menunjukkan perkembangan secara luas. Sebagaimana rencana “ the federal communication commission “ yang mempertimbangkan kemungkinan 2000 stasiun televisi yang akan melayani masyarakat terakhir. The A.C. nielsen Company sendiri memperkirakan dari sekitar 48 juta lebih televisi yang dipasang sekarang, 44,5 juta digunakan dan ditempatkan didalam rumah-rumah keluarga. Kemudian 11 % dari rumah-rumah tersebut mwmiliki lebih dari satu set. Bayangkan !.
Sebagai media komunikasi serta hiburan, tentu televisi juga tidak lepas dari berbagai kritikan. Salah satunya dari Jack Gould ( pengkritik Radio dan Televisi ) . ia pernah mengemukakan komentarnya pada halaman muka “ The New York Times “ mengenai konsumsi televisi. Menurutnya “ Antene yang terpancang pada setiap atap rumah sekarang, menandakan suatu perubahan dasar dari pada tabiat suatu bangsa. Rumah sudah menjadi pusat kepentingan yang baru bagi sebagian besar kelompok manusia didunia “. Dari pendapat itu bisa ditarik kesimpulan bahwa kekhawatiran sebagian kalangan tentang semakin tingginya animo masyarakat terhadap tanyangan televisi yang akan berdampak pada aktifitas monoton didalam rumah yang kontra produktif, yaitu masyarakat yang ‘gandrung’ didepan layar kaca.
Selain pendapat diatas terdapat juga pendapat yang mensinyalir tentang beberapa tayangan televisi yang tidak mendidik dan tidak mencerdaskan masyarakat bahkan sebaliknya membodohi dan menyesatkan. Hal tersebut juga diakibatkan kompetisi atau persaingan antar stasiun televisi dalam menayangkan program acara agar lebih menarik hati pemirsanya, bahkan seringkali tidak lagi meng-indahkan norma-norma khususnya norma agama demi kompetisi tersebut.
Berdasarkan kesepakatan para Alim Ulama NU dalam Munas Nahdlatul Ulama kamis 27 juli 2006 di asrama Sukolilo Surabaya Jawa Timur, diputuskan bahwa menayangkan atau menyiarkan, menonton atau mendengarkan acara yang menyingkap atau membeberkan kejelekan seseorang melalui acara apapun hukumnya haram. Selain itu, bukan hanya tayangan infotainment saja yang diharamkan tapi masih banyak tayangan film-film vulgar yang mempertontonkan aurat sehingga lambat laun akan berdampak pada moralitas yang melenceng dari norma-norma.  Selain itu masih banyak tayangan-tanyangan seperti sinetron-sinetron yang menghiasi layar kaca kita, yang diproduksi baik itu sinetron remaja, dewasa, komedi, sampai sinetron reliji-pun tidak lepas dari sorotan kritik.  Meskipun ada batasan kategori acara-acara yang dikonsumsi baik itu untuk anak-anak, remaja, atau dewasa juga apakah tayangan-tayangan untuk dewasa  -yang ditayangkan pada jam-jam malam misalnya- apakah menjamin anak dibawah umur tidak akan nonton ?. selain tayangan-tayangan hiburan televisi juga menayangkan acara pengajian atau kultum akan tetapi bukan pada jam-jam strategis atau jam-jam dimana biasanya banyak orang menonton televisi, sehingga tetap saja acara tersebut tidak mencapai target atau tujuan yang diharapkan.
Demikianlah gambaran dinamika pertelevisian khususnya dinegara kita. Kemampuan televisi mencapai waktu dan jarak yang bersamaan, saat jutaan manusia melihat dan mendengar manusia sesamanya secara simultan, merupakan manfaat yang dimilikinya bagi publik yang melewatkan waktu luangnya. Namun disisi lain televisi juga sering digunakan sebagai alat propaganda yang ampuh sehingga mampu menghipnotis siapa saja menyaksikannya. Dalam waktu sekejap penonton sksn mudah terbawa oleh isu-isu yang disampaikan melalui media tersebut.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar